Kualitas Percakapan Anda Menentukan Kualitas Hidup Anda


Ini adalah rangkaian tulisan pelatihan kepemimpinan. Percakapan yang biasa kita lakukan sehari-hari, ternyata tidak hanya soal pertukaran kata-kata dan informasi saja. Ada dampak yang lebih besar dan dalam yang sedang terjadi, tidak sesederhana seperti pertukaran data saja. Percakapan itu mempengaruhi cara kita terhubung dan berinteraksi dengan orang lain, mempengaruhi pola pikir (mindset), serta mempunyai kekuatan untuk membawa kita merasa ‘nyambung’ atau ‘merasa satu frekuensi’ dengan kawan bicara kita. Ibaratnya seperti jembatan yang menghubungkan ‘bagaimana orang lain melihat suatu persoalan’ dengan ‘bagaimana saya melihat persoalan tersebut’.


Percakapan yang tidak sehat, misalnya perintah, kata-kata yang kasar, caci maki, dan berbagai percakapan yang tidak produktif lainnya, mempunyai dampak yang merusak terhadap diri kita. Dan, yang saya maksud disini adalah kerusakan secara harafiah! secara khusus pada otak kita.


Pada November 2001 hingga Agustus 2007 pernah dilakukan sebuah riset di University of Wisconsin-Madison, di Amerika, terhadap anak-anak yang berusia 4 hingga 22 tahun. Penelitian ini melakukan scanning otak mereka (MRI – magnetic resonance images) selama kurun waktu 6 tahun tersebut. Dan, menghasilkan data 823 hasil scan MRI, lengkap dengan latar belakang status sosial ekonomi keluarga mereka. Riset dilakukan untuk melihat perkembangan otak mereka.


Hasil penelitian menunjukkan bukti yang kuat bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan, mempunyai dampak dalam perkembangan otak mereka, yang dalam jangka panjang merugikan diri mereka. Sebenarnya sudah sering kita dengar penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan, biasanya kurang berhasil dalam pelajaran di sekolahnya. Salah satu penyebabnya adalah kekurangan gizi yang diperlukan saat janin berkembang di dalam rahim ibunya, hingga perkembangan masa-masa awal anak-anak tersebut. Namun, penelitian di atas mampu mengidentifikasikan bagian otak tertentu yang mengakibatkan penyebab kinerja yang buruk.


Riset dari University of Wisconsin-Madison, di Amerika tersebut menyimpulkan bahwa sekitar 20% kesenjangan nilai tes anak-anak tersebut disebabkan perkembangan yang lambat dari 2 bagian otak, yakni: frontal lobe dan temporal lobe.



Frontal lobe adalah bagian otak besar yang penting untuk mengontrol perhatian (atensi), pemecahan masalah (pembelajaran yang kompleks) serta aspek-aspek emosi dan sosial, seperti menahan diri. Keaktifan bagian otak ini menentukan kepandaian seseorang atas sesuatu hal. Sedangkan temporal lobe adalah bagian otak besar yang penting untuk mengingat (memori), mengendalikan pendengaran dan memahami bahasa, seperti mengidentifikasi dan memberi arti pada kata-kata.


Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Judith Glaser, pencipta metodologi conversational intelligence, selama sekitar 30 tahun terakhir, menyimpulkan bahwa kualitas percakapan yang sehat antara orang tua dan anak-anaknya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan yang lebih baik bagi anak-anak tersebut, meskipun mereka tinggal dalam kemiskinan.


Menurut saya pribadi, inilah kabar baiknya! Bahwa kemiskinan bukan harga mati yang menentukan ‘madesu’ (masa depan suram) seseorang. Faktanya, kita sering melihat ada orang-orang hebat yang lahir dari keluarga yang miskin. Yang saya percaya bila ditelusuri lebih dalam, mereka mempunyai orang tua atau keluarga yang baik, yang membangun kualitas pribadi anak-anaknya. Hubungan ini tidak lepas dari kualitas percakapan yang terjadi dalam keseharian hidup mereka.


Riset mengenai hal ini yang mendorong Judith Glaser pada Oktober 2013 mengenalkan istilah Conversational Intelligence atau C-IQ. Semenjak itu, semakin banyak orang di seluruh dunia yang mempelajarinya dan mendapat manfaatnya. Saya sendiri pertama kali mendengar istilah Conversational Intelligence saat mengikuti seminar di World Business & Executive Coaching Summit 2014. Dan saya pribadi merasakan manfaatnya, baik melalui interaksi di dalam keluarga maupun di lingkungan kantor, atau pun dalam profesi saya sebagai seorang business coach dan leadership trainer. Kemudian di awal 2017, saya bersyukur mempunyai kesempatan untuk mempelajari lebih dalam dan mengikuti program sertifikasinya sebagai praktisi Conversational Intelligence Coaching.


Menurut saya, kecerdasan ini pun perlu dikenalkan di Indonesia supaya semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya. Ini yang mendorong saya membuat blog Conversational Intelligence Indonesia. Semoga hal-hal yang kita belajar bersama dan sharing disini, walaupun sekecil apapun, bisa menambahkan pada pengetahuan dan ketrampilan yang telah Anda miliki sebelumnya dan memicu hal-hal lain yang bisa membantu Anda mencapai kualitas hidup yang diinginkan.


Biarlah saya tutup tulisan kali ini dengan kutipan dari Mahatma Gandhi sebagai berikut:

“Jalani Hidup seakan Anda akan Meninggal Besok, Belajarlah seakan Anda akan Hidup Selamanya.”

Amin.




#conversationalintelligence #conversationalintelligenceindonesia #komunikasiefektif #effectivecommunication #leadershiptraining #pelatihankepemimpinan #pelatihansdm #pelatihanmanajemen #pelatihbisnis #businesscoach #becominggreatleader #jimmysudirgo